Pendhalungan: sebuah ‘periuk besar’ masyarakat multikultural
P.Raharjo, Christanto
Sepertihalnya sebuah orkestra yang mengusung perpaduan dari permainan
bermacam instrumen musik dalam irama harmonis, Pendhalungan bisa dikatakan sebagai
‘sebuah proses yang akan terus menjadi’ di tengah-tengah keragamannya. Artinya apa-apa
yang saat ini bisa dikaji dan dipahami dari wilayah kebudayaan ini adalah sesuatu yang
belum mapan (established) dan akan terus menjadi sesuai dengan gerak dinamis
kebudayaan etnis-etnis pendukungnya.
Berangkat dari kenyataan tersebut, ada beberapa kemungkinan yang bisa
dilontarkan. Pertama, bisa jadi, pada suatu ketika perpaduan kebudayaan masing-masing
etnis di wilayah ini akan menghasilkan sebuah budaya yang ‘benar-benar baru’ sehingga
orang-orang di luar komunitas ini tidak lagi akan mengatakan Jawa Pendhalungan, Madura
Pendhalungan, Tionghoa Pendhalungan, ataupun Arab Pendhalungan, tetapi benar-benar
mengatakan Kamu Pendhalungan. Kedua, Pendhalungan akan tetap seperti sekarang ini, ada
hibridasi dan ada juga atraksi kultural dari masing-masing etnisnya dengan suasana yang
semakin dinamis karena datangnya etnis-etnis lain dari seluruh bagian Indonesia, baik
karena alasan pendidikan ataupun pekerjaan. Semuanya bisa saja terjadi dan semuanya
akan berdampak positif selagi komunitas pendukung menyadarinya. Yang tidak baik
adalah ketika periuk besar ini hancur karena sengaja dipecah oleh mereka yang mengatasnamakan
kebenaran demi kepentingan politik, agama, ekonomi, ataupun perut.
bermacam instrumen musik dalam irama harmonis, Pendhalungan bisa dikatakan sebagai
‘sebuah proses yang akan terus menjadi’ di tengah-tengah keragamannya. Artinya apa-apa
yang saat ini bisa dikaji dan dipahami dari wilayah kebudayaan ini adalah sesuatu yang
belum mapan (established) dan akan terus menjadi sesuai dengan gerak dinamis
kebudayaan etnis-etnis pendukungnya.
Berangkat dari kenyataan tersebut, ada beberapa kemungkinan yang bisa
dilontarkan. Pertama, bisa jadi, pada suatu ketika perpaduan kebudayaan masing-masing
etnis di wilayah ini akan menghasilkan sebuah budaya yang ‘benar-benar baru’ sehingga
orang-orang di luar komunitas ini tidak lagi akan mengatakan Jawa Pendhalungan, Madura
Pendhalungan, Tionghoa Pendhalungan, ataupun Arab Pendhalungan, tetapi benar-benar
mengatakan Kamu Pendhalungan. Kedua, Pendhalungan akan tetap seperti sekarang ini, ada
hibridasi dan ada juga atraksi kultural dari masing-masing etnisnya dengan suasana yang
semakin dinamis karena datangnya etnis-etnis lain dari seluruh bagian Indonesia, baik
karena alasan pendidikan ataupun pekerjaan. Semuanya bisa saja terjadi dan semuanya
akan berdampak positif selagi komunitas pendukung menyadarinya. Yang tidak baik
adalah ketika periuk besar ini hancur karena sengaja dipecah oleh mereka yang mengatasnamakan
kebenaran demi kepentingan politik, agama, ekonomi, ataupun perut.
Detail Information
- Publisher
- Direktorat Jenderal Kebudayaan: BPNB D.I. Yogyakarta
- Bahasa
- id
- Last Updated
- 2017-03-27T08:33:51Z
Subjects / Keywords
Akses Dokumen
Hak Cipta & Lisensi
Konten ini bersumber dari Repositori Institusi Kemendikdasmen.
Hak cipta dimiliki oleh institusi pencipta karya. Dilisensikan di bawah Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International (CC BY-NC 4.0).
Metadata di-harvest melalui protokol OAI-PMH sesuai SK Sekjen Kemendikbudristek No. 18/M/2022.
Karya Umum
Filsafat
Agama
Ilmu-ilmu Sosial
Bahasa
Ilmu-ilmu Murni
Ilmu-ilmu Terapan
Kesenian, Hiburan, dan Olahraga
Kesusastraan
Geografi dan Sejarah