Perkampungan di perkotaan sebagai wujud proses adaptasi sosial di daerah jawa tengah
Sudaryo, Sudaryo
Sejalan dengan pertumbuhan penduduk dan peningkatan status.
Kota Semarang mengalami proses perkembangan yang kembar, yaitu perluasan wilayah ke arah luar dan pembenahan fasilitas dalam kota sendiri. Akan tetapi, laju pembenahan fasilitas itu tidak secepat dan sama rata laju pertumbuhan penduduk. Akibatnya, di satu pihak muncul kompleks pemukiman yang fasilitasnya makin sempurna, dan di pihak lain muncul pemukiman yang fasilitasnya makin buruk.
Kompleks pemukiman terakhir ini, umumnya muncul di kawasan
yang peruntukannya tidak jelas. Pemukiman inilah yang digolongkan sebagai kampung miskin. Sasaran penelitian ini adalah dua kampung miskin, masing-masing berada di pusat ·dan di pinggir kota. Penduduk kedua kampung miskin yang diteliti, umumnya beketja sebagai buruh dan pekerja kasar lainnya di pusat kota. Jenis pekerjaannya itu merupakan jawaban terhadap rendahnya tingkat pendidikan dan keterampilan yang mereka miliki. Selanjutnya karena
jenis pekerjaannya itu pula pendapa_tan mereka rata-rata rendah. Hanya saja pe!lduduk pusat kota lebih beruntung karena ongkos perjalanan ke dan dari tempat ketja relatif lebih kecil dibanding dengan penduduk pinggiran kota. Untuk menambah pendapatan keluarga, ibu rumah tangga warga pinggiran kota menanami pekarangan dan menjualnya ke pasar pusat kota.
Kota Semarang mengalami proses perkembangan yang kembar, yaitu perluasan wilayah ke arah luar dan pembenahan fasilitas dalam kota sendiri. Akan tetapi, laju pembenahan fasilitas itu tidak secepat dan sama rata laju pertumbuhan penduduk. Akibatnya, di satu pihak muncul kompleks pemukiman yang fasilitasnya makin sempurna, dan di pihak lain muncul pemukiman yang fasilitasnya makin buruk.
Kompleks pemukiman terakhir ini, umumnya muncul di kawasan
yang peruntukannya tidak jelas. Pemukiman inilah yang digolongkan sebagai kampung miskin. Sasaran penelitian ini adalah dua kampung miskin, masing-masing berada di pusat ·dan di pinggir kota. Penduduk kedua kampung miskin yang diteliti, umumnya beketja sebagai buruh dan pekerja kasar lainnya di pusat kota. Jenis pekerjaannya itu merupakan jawaban terhadap rendahnya tingkat pendidikan dan keterampilan yang mereka miliki. Selanjutnya karena
jenis pekerjaannya itu pula pendapa_tan mereka rata-rata rendah. Hanya saja pe!lduduk pusat kota lebih beruntung karena ongkos perjalanan ke dan dari tempat ketja relatif lebih kecil dibanding dengan penduduk pinggiran kota. Untuk menambah pendapatan keluarga, ibu rumah tangga warga pinggiran kota menanami pekarangan dan menjualnya ke pasar pusat kota.
Detail Information
- Publisher
- Direktorat Jenderal Kebudayaan
- Tahun
- 1986
- Bahasa
- en
- Last Updated
- 2019-06-30T08:10:59Z
Subjects / Keywords
Akses Dokumen
Hak Cipta & Lisensi
Konten ini bersumber dari Repositori Institusi Kemendikdasmen.
Hak cipta dimiliki oleh institusi pencipta karya. Dilisensikan di bawah Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International (CC BY-NC 4.0).
Metadata di-harvest melalui protokol OAI-PMH sesuai SK Sekjen Kemendikbudristek No. 18/M/2022.
Karya Umum
Filsafat
Agama
Ilmu-ilmu Sosial
Bahasa
Ilmu-ilmu Murni
Ilmu-ilmu Terapan
Kesenian, Hiburan, dan Olahraga
Kesusastraan
Geografi dan Sejarah