Modul pelatihan tenaga teknis konservasi tingkat menengah 2012
Sutopo, Marsis, dkk
Indonesia memiliki cagar budaya berbahan dasar kayu yang sangat kaya dan beragam. Ada yang dalam bentuk bangunan arsitektur vernakular yang tersebar di seluruh pelosok nusantara, baik polos maupun bercat, ada pula yang berbentuk koleksi museum. Di samping itu, juga ada yang masih dalam
bentuk tinggalan arkeologi bawah air dalam bentuk kapal-kapal tenggelam (shipwreck). Keberadaan cagar budaya tersebut mencerminkan kearifan lokal dari masyarakat pendukungnya yang pada umumnya bernilai tinggi, dan penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Oleh karena itu, pemeliharaan baik dalam bentuk konservasi secara preventif maupun konservasi kuratif dinilai perlu dalam rangka menjaga kondisi eksisting cagar budaya tersebut agar dapat diteruskan kepada generasi mendatang dalam keadaan terawat secara baik.
Karena kondisi lingkungan yang beriklim tropis lembab, pada umumnya kondisinya sudah mengalami degradasi baik dalam bentuk kerusakan maupun pelapukan. Tingkat degradasi tersebut sangat tergantung dari jenis dan kualitas kayu yang digunakan dan faktor-faktor lingkungan yang berpengaruh. Oleh karena itu, masyarakat pemilik dan/atau yang menguasai selalu berusaha semaksimal mungkin untuk mempertahankan cagar budaya yang dimilikinya dengan cara perawatan secara tradisional yang dilakukan secara turun temurun. Pada dasarnya penanganan konservasi berbahan dasar kayu dilakukan dengan mengacu pada prinsip intervensi seminimum mungkin. Dalam arti bahwa jika tidak ada masalah hanya dilakukan secara sederhana. Penanganan konservasi dengan menggunakan bahan kimia dilakukan atas dasar pertimbangan apabila secara teknis tidak mungkin lagi dilakukan secara tradisional.
bentuk tinggalan arkeologi bawah air dalam bentuk kapal-kapal tenggelam (shipwreck). Keberadaan cagar budaya tersebut mencerminkan kearifan lokal dari masyarakat pendukungnya yang pada umumnya bernilai tinggi, dan penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Oleh karena itu, pemeliharaan baik dalam bentuk konservasi secara preventif maupun konservasi kuratif dinilai perlu dalam rangka menjaga kondisi eksisting cagar budaya tersebut agar dapat diteruskan kepada generasi mendatang dalam keadaan terawat secara baik.
Karena kondisi lingkungan yang beriklim tropis lembab, pada umumnya kondisinya sudah mengalami degradasi baik dalam bentuk kerusakan maupun pelapukan. Tingkat degradasi tersebut sangat tergantung dari jenis dan kualitas kayu yang digunakan dan faktor-faktor lingkungan yang berpengaruh. Oleh karena itu, masyarakat pemilik dan/atau yang menguasai selalu berusaha semaksimal mungkin untuk mempertahankan cagar budaya yang dimilikinya dengan cara perawatan secara tradisional yang dilakukan secara turun temurun. Pada dasarnya penanganan konservasi berbahan dasar kayu dilakukan dengan mengacu pada prinsip intervensi seminimum mungkin. Dalam arti bahwa jika tidak ada masalah hanya dilakukan secara sederhana. Penanganan konservasi dengan menggunakan bahan kimia dilakukan atas dasar pertimbangan apabila secara teknis tidak mungkin lagi dilakukan secara tradisional.
Detail Information
- Publisher
- Balai Konservasi Borobudur, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
- Tahun
- 2012
- Bahasa
- id
- Last Updated
- 2024-01-05T06:25:37Z
Subjects / Keywords
Akses Dokumen
Hak Cipta & Lisensi
Konten ini bersumber dari Repositori Institusi Kemendikdasmen.
Hak cipta dimiliki oleh institusi pencipta karya. Dilisensikan di bawah Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International (CC BY-NC 4.0).
Metadata di-harvest melalui protokol OAI-PMH sesuai SK Sekjen Kemendikbudristek No. 18/M/2022.
Karya Umum
Filsafat
Agama
Ilmu-ilmu Sosial
Bahasa
Ilmu-ilmu Murni
Ilmu-ilmu Terapan
Kesenian, Hiburan, dan Olahraga
Kesusastraan
Geografi dan Sejarah