Buku kenangan (buku peringatan) yang diterbitkan dalam rangka memperingati 25 tahun bertahtanya Sri Paduka P.A.A. Paku Alam VII kepala kerajaan Paku Alam 1906-1931
Tashadi, Tashadi; Nurliana, Nana
Sejarah Dinasti Paku Alam terjadi tanpa pengaruh politik apa pun ini tentunya tidak perlu diterangkan lagi. Dari fakta sejarah itu sendiri, yang mempunyai arti khusus, juga bagi segenap anggota keluarga Paku Alam, pasti merupakan suatu kenangan yang tak ternilai harganya (masa peringatan dua puluh lima tahun bertahtanya Sri Paku Alam VII).
Menurut kurun waktu perhitungan Jawa, Windu dikenal menurut urutannya, yaitu Alip, Ehe, Jimawal, Je, Dal, Be, Wawu dan Jimakir. Biasanya menurut adat Jawa berdasarkan perhitungan tersebut diadakan peringatan kenaikan tahta Sri Paku Alam VII. Bahwa di sini terjadi suatu penyimpangan dari tradisi, adalah berkat adanya pengaruh-pengaruh Barat. Dalam banyak segi, pengaruh daya pikir Barat banyak mempengaruhi para bangsawan dan pamong. Kejadian ini bukan hanya untuk kali ini saja dirayakan. Sejak Paku Alam II (1829-1858) sudah mengadakan peringatan seperempat abad bertahtanya.
Masa pemerintahan Sri Paku Alam VII ditandai oleh rasa kebijaksanaan dan tanggung jawab yang tinggi. Tujuan utamanya ialah demi Perdamaian yang merupakan induk dari kemakmuran rakyat. Mengenai pribadi Sri Paduka Paku Alam VII, ia adalah penganut dari azas-azas yang telah ditentukan oleh para leluhurnya, yaitu bahwa. seorang pemimpin yang ingin mencapai kedudukan yang kukuh, harus berusaha mengabdi dengan tulus untuk memperoleh penghormatan dan cinta dari segenap lapisan rakyatnya. Yang dimaksud bukan oleh karena kekayaan yang berlimpah dan menepuk dada, bukan karena pandai berpidato dan mempropagandakan ide-ide yang muluk, tetapi karena jasa-jasanya yang ditandai oleh kejujuran dan ikut merasakan suka dan duka rakyatnya, penuh rasa keadilan, dan kebijaksanaan.
Menurut kurun waktu perhitungan Jawa, Windu dikenal menurut urutannya, yaitu Alip, Ehe, Jimawal, Je, Dal, Be, Wawu dan Jimakir. Biasanya menurut adat Jawa berdasarkan perhitungan tersebut diadakan peringatan kenaikan tahta Sri Paku Alam VII. Bahwa di sini terjadi suatu penyimpangan dari tradisi, adalah berkat adanya pengaruh-pengaruh Barat. Dalam banyak segi, pengaruh daya pikir Barat banyak mempengaruhi para bangsawan dan pamong. Kejadian ini bukan hanya untuk kali ini saja dirayakan. Sejak Paku Alam II (1829-1858) sudah mengadakan peringatan seperempat abad bertahtanya.
Masa pemerintahan Sri Paku Alam VII ditandai oleh rasa kebijaksanaan dan tanggung jawab yang tinggi. Tujuan utamanya ialah demi Perdamaian yang merupakan induk dari kemakmuran rakyat. Mengenai pribadi Sri Paduka Paku Alam VII, ia adalah penganut dari azas-azas yang telah ditentukan oleh para leluhurnya, yaitu bahwa. seorang pemimpin yang ingin mencapai kedudukan yang kukuh, harus berusaha mengabdi dengan tulus untuk memperoleh penghormatan dan cinta dari segenap lapisan rakyatnya. Yang dimaksud bukan oleh karena kekayaan yang berlimpah dan menepuk dada, bukan karena pandai berpidato dan mempropagandakan ide-ide yang muluk, tetapi karena jasa-jasanya yang ditandai oleh kejujuran dan ikut merasakan suka dan duka rakyatnya, penuh rasa keadilan, dan kebijaksanaan.
Detail Information
- Publisher
- Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional
- Tahun
- 1986
- Bahasa
- id
- Last Updated
- 2024-02-02T04:11:38Z
Subjects / Keywords
Akses Dokumen
Hak Cipta & Lisensi
Konten ini bersumber dari Repositori Institusi Kemendikdasmen.
Hak cipta dimiliki oleh institusi pencipta karya. Dilisensikan di bawah Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International (CC BY-NC 4.0).
Metadata di-harvest melalui protokol OAI-PMH sesuai SK Sekjen Kemendikbudristek No. 18/M/2022.
Karya Umum
Filsafat
Agama
Ilmu-ilmu Sosial
Bahasa
Ilmu-ilmu Murni
Ilmu-ilmu Terapan
Kesenian, Hiburan, dan Olahraga
Kesusastraan
Geografi dan Sejarah