Montulungi pada suku bangsa saluan di Kabupaten Banggai Sulawesi Tengah
Rawis, Joyly
Mayoritas penduduk Banggai adalah masyarakat pedesaan. Sebagai suatu daerah dengan topografi khasnya, maka tumbuh berbagai kelompok masyarakat yang masing-masing memiliki ciri khas budaya seperti: bahasa, adat istiadat, tradisi, profesi dan sebagainya. Walaupun demikian, kehidupan antar kelompok masyarakat atau suku bangsa terjalin baik dan harmonis.
Di wilayah Banggai terdapat beberapa suku bangsa asli seperti : suku bangsa Balantak, Banggai, Masama, Bajo dan Saluan. Suku bangsa Saluan merupakan yang terbesar dan menyebar disebagian besar pesisir timur daerah di Kabupaten Banggai Sulawesi Tengah. Secara geografis yang didiami suku bangsa Saluan adalah di sebelah barat berbatasan dengan wilayah suku bangsa Pamona dan Bungku. Sedangkan sepanjang pantainya terbuka bagi hubungan dengan kebudayaan lain khususnya dibagian utara yang didominasi pengaruh kerajaan Islam Ternate Maluku Utara.
Sejak perkembangannya, suku bangsa Saluan telah mengembangkan kebudayaannya, tapi tidak lepas dari berbagai pengaruh dan corak kebudayaan lain. Walaupun demikian, setidaknya memiliki perwujudan budaya dengan ciri khasnya tersendiri yang patut diketahui dan diresapi kearifannya untuk dijadikan kerangka acuan dalam menuju kehidupan kedepan serta dapat dijadikan cermin untuk menilik pola kehidupan dan falsafah hidup suku bangsa Saluan.
Masyarakat suku bangsa Saluan sejak dahulu mengenal berbagai bentuk kerjasama baik dilakukan di lingkungan keluarga, kerabat maupun desa. Kerja sama atau gotong royong/tolong menolong dalam istilah umum adalah montulangi dimana meminta bantuan orang lain atau warga desa secara sukarela untuk menghadapi pekerjaan secara bersama-sama. Aktivitas tolong menolong ini mulanya di lakukan dalam bidang pertanian dengan istilah mosaut dan aktifitas menangkap ikan dengan istilah memboka kemudian terjadi pada pekerjaan mendirikan rumah (monsu'u), membuat pesta, peristiwa duka dan acara ritual (daur hidup) lainnya.
Di wilayah Banggai terdapat beberapa suku bangsa asli seperti : suku bangsa Balantak, Banggai, Masama, Bajo dan Saluan. Suku bangsa Saluan merupakan yang terbesar dan menyebar disebagian besar pesisir timur daerah di Kabupaten Banggai Sulawesi Tengah. Secara geografis yang didiami suku bangsa Saluan adalah di sebelah barat berbatasan dengan wilayah suku bangsa Pamona dan Bungku. Sedangkan sepanjang pantainya terbuka bagi hubungan dengan kebudayaan lain khususnya dibagian utara yang didominasi pengaruh kerajaan Islam Ternate Maluku Utara.
Sejak perkembangannya, suku bangsa Saluan telah mengembangkan kebudayaannya, tapi tidak lepas dari berbagai pengaruh dan corak kebudayaan lain. Walaupun demikian, setidaknya memiliki perwujudan budaya dengan ciri khasnya tersendiri yang patut diketahui dan diresapi kearifannya untuk dijadikan kerangka acuan dalam menuju kehidupan kedepan serta dapat dijadikan cermin untuk menilik pola kehidupan dan falsafah hidup suku bangsa Saluan.
Masyarakat suku bangsa Saluan sejak dahulu mengenal berbagai bentuk kerjasama baik dilakukan di lingkungan keluarga, kerabat maupun desa. Kerja sama atau gotong royong/tolong menolong dalam istilah umum adalah montulangi dimana meminta bantuan orang lain atau warga desa secara sukarela untuk menghadapi pekerjaan secara bersama-sama. Aktivitas tolong menolong ini mulanya di lakukan dalam bidang pertanian dengan istilah mosaut dan aktifitas menangkap ikan dengan istilah memboka kemudian terjadi pada pekerjaan mendirikan rumah (monsu'u), membuat pesta, peristiwa duka dan acara ritual (daur hidup) lainnya.
Detail Information
- Publisher
- Direktorat Tradisi
- Tahun
- 2011
- Bahasa
- id
- Last Updated
- 2024-02-22T05:37:26Z
Subjects / Keywords
Akses Dokumen
Hak Cipta & Lisensi
Konten ini bersumber dari Repositori Institusi Kemendikdasmen.
Hak cipta dimiliki oleh institusi pencipta karya. Dilisensikan di bawah Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International (CC BY-NC 4.0).
Metadata di-harvest melalui protokol OAI-PMH sesuai SK Sekjen Kemendikbudristek No. 18/M/2022.
Karya Umum
Filsafat
Agama
Ilmu-ilmu Sosial
Bahasa
Ilmu-ilmu Murni
Ilmu-ilmu Terapan
Kesenian, Hiburan, dan Olahraga
Kesusastraan
Geografi dan Sejarah