Pengendalian sosial tradisional daerah Lampung
Fachruddin, Fachruddin; Sitorus, M.; Dj., Endjat; Rumtiyati, Rumtiyati
Menurut adat istiadat Lampung, sebenarnya ada cara-cara pengendalian sosial yang telah lama disepakati, sesuai dengan prinsip-prinsip masyarakat Lampung yang dikenal dengan istilah Piil yang terdiri dari : piil pesenggiri, nengah nyapur, nemui nyimah, persahabatan atau sakai sabayan dan bejuluk beadek, yang dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Masyarakat Lampung harus bekerja dan belajar agar mampu hidup berdampingan sejajar dengan manusia lainnya yang berkualitas yang mempunyai kedudukan yang terhormat (piil pesenggiri);
2. Masyarakat Lampung haruss bermasyarakat (nengah nyapur);
3. Masyarakat Lampung harus menghormati tamu (nemui nyimah);
4. Masyarakat Lampung harus sayang menyayangi, sating menghormati, dan bergotong-royong dalam kehidupan bersama/bermasyarakat termasuk memanfaatkan dan melestarikan alam lingkungannya (sakai sabayan);
5. Masyarakat Lampung harus mampu melekatkan lambang-lambang kehormatan pada dirinya (bejuluk beadek).
Masyarakat Lampung sebenarnya mempunyai etos kerja yang cukup tinggi. Hal tersebut merupakan konsekuensi logis dari keinginan yang kuat untuk dapat hidup berkecukupan, bahkan akan meninggalkan desa menuju ke kota dalam rangka usaha meningkatkan kualitas hidupnya. Sedang mereka yang gagal mendapat kehidupan yang baik di kota harus tetap tinggal di desa atau bahkan membuka hutan untuk dijadikan lahan pertanian baru.
1. Masyarakat Lampung harus bekerja dan belajar agar mampu hidup berdampingan sejajar dengan manusia lainnya yang berkualitas yang mempunyai kedudukan yang terhormat (piil pesenggiri);
2. Masyarakat Lampung haruss bermasyarakat (nengah nyapur);
3. Masyarakat Lampung harus menghormati tamu (nemui nyimah);
4. Masyarakat Lampung harus sayang menyayangi, sating menghormati, dan bergotong-royong dalam kehidupan bersama/bermasyarakat termasuk memanfaatkan dan melestarikan alam lingkungannya (sakai sabayan);
5. Masyarakat Lampung harus mampu melekatkan lambang-lambang kehormatan pada dirinya (bejuluk beadek).
Masyarakat Lampung sebenarnya mempunyai etos kerja yang cukup tinggi. Hal tersebut merupakan konsekuensi logis dari keinginan yang kuat untuk dapat hidup berkecukupan, bahkan akan meninggalkan desa menuju ke kota dalam rangka usaha meningkatkan kualitas hidupnya. Sedang mereka yang gagal mendapat kehidupan yang baik di kota harus tetap tinggal di desa atau bahkan membuka hutan untuk dijadikan lahan pertanian baru.
Detail Information
- Publisher
- Bagian Proyek Penelitian, Pengkajian dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya Daerah Lampung
- Tahun
- 1992
- Bahasa
- id
- Last Updated
- 2024-04-02T02:00:44Z
Subjects / Keywords
Akses Dokumen
Hak Cipta & Lisensi
Konten ini bersumber dari Repositori Institusi Kemendikdasmen.
Hak cipta dimiliki oleh institusi pencipta karya. Dilisensikan di bawah Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International (CC BY-NC 4.0).
Metadata di-harvest melalui protokol OAI-PMH sesuai SK Sekjen Kemendikbudristek No. 18/M/2022.
Karya Umum
Filsafat
Agama
Ilmu-ilmu Sosial
Bahasa
Ilmu-ilmu Murni
Ilmu-ilmu Terapan
Kesenian, Hiburan, dan Olahraga
Kesusastraan
Geografi dan Sejarah