Sosialisasi pada perkampungan miskin kotamadya Jambi Propinsi Jambi (struktur keluarga dan sosialisasi anak)
Adiwijaya, Rasman
Struktur keluarga batih di perkampungan miskin, baik di pusat kota maupun pinggir kota, terdiri atas ayah, ibu, dan anak. Ayah bertanggung jawab atas nafkah anggota keluarganya, di samping dalam hal hubungan dengan pihak lain di luar rumah tangga. Ibu lebih banyak berada di rumah mengatur ekonomi rumah tangga untuk kesejahteraan keluarga.
Dalam hal sosialisasi anak, peranan ayah tidak sebesar peranan ibu. Sebagai pencari nafkah, ayah keluarga batih lebih banyak berada di luar. rumah. Hanya pada waktu-waktu tertentu, ayah berkumpul dan berbincang dengan anak, bahkan sebagian hanya menyediakan waktu jika dianggap perlu atau diperlukan. Sebaliknya, ibu lebih banyak di rumah sehingga banyak kemungkinan dapat bertemu dengan anak. Sementara itu, saudara kandung, khususnya yang lebih tua, ikut mengawasi dan menjaga, serta sekaligus sebagai teman bermain. Di antara anak-anak ini terdapat hubungan yang sangat akrab, saling menerima dan memberi, sikap, ucapan, dan tindakan saudara kandung tidak jarang menjadi contoh bagi adiknya.
Seluruh keluarga batih, baik pusat maupun pinggir kota, mengutamakan nilai-nilai dan norma-norma agama untuk diwariskan kepada anak. Kemudian, nilai-nilai dan norma-norma adat istiadat daerah setempat serta daerah asal. Akan tetapi, tidak seluruh harapan itu dapat terwujud. Hal ini, "mungkin" karena kurang konsekuen dan tidak konsistennya orang tua dalam menanamkan nilai dan norma-norma yang dimaksudkan. Kurangnya waktu berkumpul antara ayah dengan anak, keterbatasan pengetahuan dan pengalaman, tidak jarang ayah dan atau ibu tidak melakukan seperti yang diajarkan kepada anak. Ditambah dengan pengalaman anak di luar rumah, merupakan salah satu faktor ketidakberhasilan harapan orang tua terhadap anak.
Dalam hal sosialisasi anak, peranan ayah tidak sebesar peranan ibu. Sebagai pencari nafkah, ayah keluarga batih lebih banyak berada di luar. rumah. Hanya pada waktu-waktu tertentu, ayah berkumpul dan berbincang dengan anak, bahkan sebagian hanya menyediakan waktu jika dianggap perlu atau diperlukan. Sebaliknya, ibu lebih banyak di rumah sehingga banyak kemungkinan dapat bertemu dengan anak. Sementara itu, saudara kandung, khususnya yang lebih tua, ikut mengawasi dan menjaga, serta sekaligus sebagai teman bermain. Di antara anak-anak ini terdapat hubungan yang sangat akrab, saling menerima dan memberi, sikap, ucapan, dan tindakan saudara kandung tidak jarang menjadi contoh bagi adiknya.
Seluruh keluarga batih, baik pusat maupun pinggir kota, mengutamakan nilai-nilai dan norma-norma agama untuk diwariskan kepada anak. Kemudian, nilai-nilai dan norma-norma adat istiadat daerah setempat serta daerah asal. Akan tetapi, tidak seluruh harapan itu dapat terwujud. Hal ini, "mungkin" karena kurang konsekuen dan tidak konsistennya orang tua dalam menanamkan nilai dan norma-norma yang dimaksudkan. Kurangnya waktu berkumpul antara ayah dengan anak, keterbatasan pengetahuan dan pengalaman, tidak jarang ayah dan atau ibu tidak melakukan seperti yang diajarkan kepada anak. Ditambah dengan pengalaman anak di luar rumah, merupakan salah satu faktor ketidakberhasilan harapan orang tua terhadap anak.
Detail Information
- Publisher
- Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah
- Tahun
- 1983
- Bahasa
- id
- Last Updated
- 2023-11-09T07:46:00Z
Subjects / Keywords
Akses Dokumen
Hak Cipta & Lisensi
Konten ini bersumber dari Repositori Institusi Kemendikdasmen.
Hak cipta dimiliki oleh institusi pencipta karya. Dilisensikan di bawah Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International (CC BY-NC 4.0).
Metadata di-harvest melalui protokol OAI-PMH sesuai SK Sekjen Kemendikbudristek No. 18/M/2022.
Karya Umum
Filsafat
Agama
Ilmu-ilmu Sosial
Bahasa
Ilmu-ilmu Murni
Ilmu-ilmu Terapan
Kesenian, Hiburan, dan Olahraga
Kesusastraan
Geografi dan Sejarah