Bathi sanak
Suprihatin, Suprihatin
Memayu anak piatu. Ia tinggal di Desa Truntum di selatan Pasar Prawirotama. Memayu diasuh Mbah Temu yang pekerjaannya buruh géndong barang belanja di pasar. Di Yogyakarta pekerjaan tersebut dinamai burun géndong. Walaupun kakinya pincang, Memayu tidak merasa kurang. Memayu bersyukur dan merasa beruntung masih bisa berjalan. Hanya satu yang membuat hatinya kesal, Santo, yang suka menjahilinya.
Pada bulan puasa, Memayu berjualan makanan buka puasa. Setelah berjualan, ia pergi kemusala. Sial, pada hari itu sepulang tarawih, Santo menjegal Memayu. Memayu jatuh dan menangis. Kruk patah, kaki sakit, paha bengkak, mukena tersangkut pagar bambu.
Pada bulan puasa, Memayu berjualan makanan buka puasa. Setelah berjualan, ia pergi kemusala. Sial, pada hari itu sepulang tarawih, Santo menjegal Memayu. Memayu jatuh dan menangis. Kruk patah, kaki sakit, paha bengkak, mukena tersangkut pagar bambu.
Detail Information
- Publisher
- Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
- Tahun
- 2024
- Bahasa
- id
- Last Updated
- 2025-10-30T02:53:51Z
Subjects / Keywords
Akses Dokumen
Hak Cipta & Lisensi
Konten ini bersumber dari Repositori Institusi Kemendikdasmen.
Hak cipta dimiliki oleh institusi pencipta karya. Dilisensikan di bawah Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International (CC BY-NC 4.0).
Metadata di-harvest melalui protokol OAI-PMH sesuai SK Sekjen Kemendikbudristek No. 18/M/2022.
Karya Umum
Filsafat
Agama
Ilmu-ilmu Sosial
Bahasa
Ilmu-ilmu Murni
Ilmu-ilmu Terapan
Kesenian, Hiburan, dan Olahraga
Kesusastraan
Geografi dan Sejarah