Interaksi penghuni asrama mahasiswa dengan masyarakat sekitar : suatu pijakan awal multikulturalisme
Purwaningsih, Ernawati; Galba, Sindu; Ariani, Christriyati
Konflik antaretnik pernah terjadi di Yogyakarta pada tahun 1970-an. Menurut penuturan informan, konflik antaretnik tersebut diawali dengan peristiwa seorang mahasiswa yang berasal dari daerah Sumatera, naik becak tidak mau membayar. Karena tidak dibayar, tukang becak tersebut mencari tempat tinggal mahasiswa tersebut. Peristiwa ada penumpang yang tidak mau membayar diceritakan kepada sesama teman yang berprofesi tukang becak. Berawal dari peristiwa tersebut, kemudian ada semacam penyerbuan ke asrama tersebut. Bahkan, cerita tersebut berkembang luas di masyarakat, sehingga terkadang ada masyarakat yang tidak pandang bulu mahasiswa tersebut dari daerah mana, asalkan menggunakan bahasa Indonesia bisa kena sasaran untuk dihajar. Kejadian tersebut sempat membuat suasana Yogyakarta menjadi mencekam.
Konflik antara mahasiswa dengan warga masyarakat juga pernah terjadi di daerah Tambakbayan, Babarsari, Sleman. Konflik tersebut dipicu adanya kebiasaan mabuk-mabukan. Karena kebiasaan tersebut mengganggu masyarakat sekitarnya, maka ditegur oleh warga masyarakat. Teguran tersebut justru membuat marah para mahasiswa yang suka mabuk-mabukan, mengakibatkan terjadi konflik berupa kekerasan fisik, beberapa rumah warga di Tambakbayan juga dirusak (http://www.tempo.co/read/news/2013/03/26/078469506/Sultan-Yogya-Gelar-Dialog-dengan-Mahasiswa-NTT).
Peristiwa di atas adalah bagian dari konflik-konflik antaretnik yang terjadi di Yogyakarta. Konflik antaretnik tersebut tidak dapat dihindari, dikarenakan kondisi masyarakat Yogyakarta terdiri dari berbagai etnik dan golongan. Keberadaan Yogyakarta yang terdiri dari berbagai etnik sudah ada sejak dulu. Hal ini dapat dirunut dari cerita sejarah mengenai nama-nama kampung seperti Kranggan yang terletak di utara Tugu dan Pecinan yang terletak di selatan Malioboro didiami oleh orang-orang Cina. Kampung Sayidan adalah tempat tinggal orang Arab, Kampung Menduran didiami oleh orang-orang dari Madura. Kampung Bugisan berkaitan dengan sejarah KeratonYogyakarta.
Konflik antara mahasiswa dengan warga masyarakat juga pernah terjadi di daerah Tambakbayan, Babarsari, Sleman. Konflik tersebut dipicu adanya kebiasaan mabuk-mabukan. Karena kebiasaan tersebut mengganggu masyarakat sekitarnya, maka ditegur oleh warga masyarakat. Teguran tersebut justru membuat marah para mahasiswa yang suka mabuk-mabukan, mengakibatkan terjadi konflik berupa kekerasan fisik, beberapa rumah warga di Tambakbayan juga dirusak (http://www.tempo.co/read/news/2013/03/26/078469506/Sultan-Yogya-Gelar-Dialog-dengan-Mahasiswa-NTT).
Peristiwa di atas adalah bagian dari konflik-konflik antaretnik yang terjadi di Yogyakarta. Konflik antaretnik tersebut tidak dapat dihindari, dikarenakan kondisi masyarakat Yogyakarta terdiri dari berbagai etnik dan golongan. Keberadaan Yogyakarta yang terdiri dari berbagai etnik sudah ada sejak dulu. Hal ini dapat dirunut dari cerita sejarah mengenai nama-nama kampung seperti Kranggan yang terletak di utara Tugu dan Pecinan yang terletak di selatan Malioboro didiami oleh orang-orang Cina. Kampung Sayidan adalah tempat tinggal orang Arab, Kampung Menduran didiami oleh orang-orang dari Madura. Kampung Bugisan berkaitan dengan sejarah KeratonYogyakarta.
Detail Information
- Publisher
- Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Yogyakarta.
- Tahun
- 2014
- Bahasa
- en
- Last Updated
- 2018-02-22T08:56:20Z
Subjects / Keywords
Akses Dokumen
Hak Cipta & Lisensi
Konten ini bersumber dari Repositori Institusi Kemendikdasmen.
Hak cipta dimiliki oleh institusi pencipta karya. Dilisensikan di bawah Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International (CC BY-NC 4.0).
Metadata di-harvest melalui protokol OAI-PMH sesuai SK Sekjen Kemendikbudristek No. 18/M/2022.
Computer Science, Information & General Works
Philosophy & Psychology
Religion
Social Sciences
Language
Pure Science
Applied Sciences
Art & Recreation
Literature
History & Geography