PERSEPSI KONFLIK MANUSIA GAJAH DI DESA MELIBUR KECAMATAN PINGGIR, KABUPATEN BENGKALIS, RIAU
Yudha, Dwi Rizky Prima
Pertambahan angka populasi manusia berdampak pada meluasnya
pembangunan di berbagai sektor diantaranya pembukaan kawasan hutan untuk
perkebunan dan pertambangan, menyebabkan konflik antara manusia dan satwa
liar menjadi sering terjadi. Konflik antara manusia dan satwa liar terjadi akibat
sejumlah interaksi negatif baik langsung maupun tidak langsung antara manusia
dan satwa liar. Gajah salah satu jenis satwa yang mendapatkan pakannya sebagian
besar dari dalam kawasan hutan. Gajah sangat membutuhkan keberadaan hutan
sebagai tempat hidup dan berkembang biak. Deforestasi yang terus menerus
terjadi semakin mengancam kehidupan satwa liar termasuk gajah sumatera yang
habitatnya terus mengalami kerusakan baik penyempitan maupun fragmentasi,
akibat adanya konversi hutan menjadi perkebunan dan hutan tanaman industri.
Kerusakan hutan dan fragmentasi habitat satwa untuk perluasan pertanian/
perkebunan, pertambangan dan perumahan merupakan penyebab konflik manusia�satwa liar. Oleh sebab itu, degradasi habitat menyebabkan satwa tersebut masuk
ke lahan pertanian/perkebunan yang berdekatan dengan kawasan hutan sehingga
satwa liar merusak tanaman budidaya masyarakat. Kerusakan pada komoditi
tanaman mengakibatkan kerugian sosial ekonomi masyarakat dengan nilai
kerusakan terlihat bervariasi di setiap daerah, sesuai dengan luas lahan yang
dimiliki dan ekonomi masyarakat yang tergantung pada aktivitas pertanian di
pedesaan. Konflik manusia gajah, baik masalah pengembangan pembangunan,
lahan pertanian maupun perkebunan, belum dapat diselesaikan secara tepat karena
masih berorientasi kepada aspek perlindungan dan kurang mempertimbangkan
kepentingan masyarakat di daerah konflik. Selain itu, status perlindungan habitat
gajah yang berada di luar kawasan konservasi masih lemah, sehingga semakin
memberikan batasan-batasan pergerakan gajah dalam beraktivitas. Bila dilihat dari
sisi habitat dan perilaku gajah dengan kemampuan gajah bereproduksi secara
alami yang rendah dikombinasikan dengan kebutuhan akan habitat yang luas dan
kompak (contiguous) membuat mereka sangat rentan terhadap kepunahan. Lagi
pula proses pergerakan gajah secara periodik pada wilayah jelajahnya yang telah
berubah menjadi areal pemukiman, lokasi transmigrasi, areal pertanian dan
perkebunan dapat mengancam jiwa manusia dan mengganggu aktifitas
pembangunan. Oleh sebab itu, perlu diketahui Bioekologi Gajah Sumatera pada
saat masuk ke areal pertanian atau perkebunan sehingga memudahkan upaya dan
peran serta masyarakat dalam menanggulangi konflik manusia gajah di Desa
Melibur, Kecamatan Pinggir, Kabupaten Bengkalis.
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi persepsi masyarakat
terhadap gangguan tanaman oleh Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus)
di Desa Melibur Kecamatan Pinggir, Kabupaten Bengkalis, Riau,
mengidentifikasi persepsi masyarakat terhadap kerusakan yang disebabkan oleh
Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) di Desa Melibur Kecamatan
Pinggir, Kabupaten Bengkalis, Riau, dan mengidentifikasi persepsi masyarakat
sekitar kawasan konflik manusia gajah di Desa Melibur Kecamatan Pinggir,
ii
Kabupaten Bengkalis, Riau. Metode Penelitian adalah metode kualitatif deskriptif
yaitu menjelaskan kondisi temuan lapangan melalui studi pustaka, wawancara
(kuesioner), dan pengamatan lapangan. Responden ditentukan secara purposive
sampling.
Hasil Penelitian adalah Hasil persepsi masyarakat terhadap gangguan
tanaman oleh Gajah Sumatera (Elephas Maximus Sumatrunus) mendapat nilai 25
dalam kategori tinggi, artinya tanaman pekebunan dan pertanian masyarakat
setuju diganggu oleh gajah. Persepsi masyarakat terhadap kerusakan oleh gajah
Gajah Sumatera (Elephas Maximus Sumatrunus) mendapat nilai 23 dalam
kategori sedang, artinya masyarakat mengalami kerusakan tanaman dan sarana
pondok jaga lahan pertanian dan perkebunan, dan tidak mengalami putusnya
akses jalan, kubangan pada lahan pertanian dan perkebunan, juga pemadatan
tanah pada lahan pertanian dan perkebunan. Persepsi masyarakat sekitar kawasan
konflik manusia gajah mendapat nilai 25 kategori tinggi, kawasan sekitar konflik
manusia gajah sangat sering terjadi.
pembangunan di berbagai sektor diantaranya pembukaan kawasan hutan untuk
perkebunan dan pertambangan, menyebabkan konflik antara manusia dan satwa
liar menjadi sering terjadi. Konflik antara manusia dan satwa liar terjadi akibat
sejumlah interaksi negatif baik langsung maupun tidak langsung antara manusia
dan satwa liar. Gajah salah satu jenis satwa yang mendapatkan pakannya sebagian
besar dari dalam kawasan hutan. Gajah sangat membutuhkan keberadaan hutan
sebagai tempat hidup dan berkembang biak. Deforestasi yang terus menerus
terjadi semakin mengancam kehidupan satwa liar termasuk gajah sumatera yang
habitatnya terus mengalami kerusakan baik penyempitan maupun fragmentasi,
akibat adanya konversi hutan menjadi perkebunan dan hutan tanaman industri.
Kerusakan hutan dan fragmentasi habitat satwa untuk perluasan pertanian/
perkebunan, pertambangan dan perumahan merupakan penyebab konflik manusia�satwa liar. Oleh sebab itu, degradasi habitat menyebabkan satwa tersebut masuk
ke lahan pertanian/perkebunan yang berdekatan dengan kawasan hutan sehingga
satwa liar merusak tanaman budidaya masyarakat. Kerusakan pada komoditi
tanaman mengakibatkan kerugian sosial ekonomi masyarakat dengan nilai
kerusakan terlihat bervariasi di setiap daerah, sesuai dengan luas lahan yang
dimiliki dan ekonomi masyarakat yang tergantung pada aktivitas pertanian di
pedesaan. Konflik manusia gajah, baik masalah pengembangan pembangunan,
lahan pertanian maupun perkebunan, belum dapat diselesaikan secara tepat karena
masih berorientasi kepada aspek perlindungan dan kurang mempertimbangkan
kepentingan masyarakat di daerah konflik. Selain itu, status perlindungan habitat
gajah yang berada di luar kawasan konservasi masih lemah, sehingga semakin
memberikan batasan-batasan pergerakan gajah dalam beraktivitas. Bila dilihat dari
sisi habitat dan perilaku gajah dengan kemampuan gajah bereproduksi secara
alami yang rendah dikombinasikan dengan kebutuhan akan habitat yang luas dan
kompak (contiguous) membuat mereka sangat rentan terhadap kepunahan. Lagi
pula proses pergerakan gajah secara periodik pada wilayah jelajahnya yang telah
berubah menjadi areal pemukiman, lokasi transmigrasi, areal pertanian dan
perkebunan dapat mengancam jiwa manusia dan mengganggu aktifitas
pembangunan. Oleh sebab itu, perlu diketahui Bioekologi Gajah Sumatera pada
saat masuk ke areal pertanian atau perkebunan sehingga memudahkan upaya dan
peran serta masyarakat dalam menanggulangi konflik manusia gajah di Desa
Melibur, Kecamatan Pinggir, Kabupaten Bengkalis.
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi persepsi masyarakat
terhadap gangguan tanaman oleh Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus)
di Desa Melibur Kecamatan Pinggir, Kabupaten Bengkalis, Riau,
mengidentifikasi persepsi masyarakat terhadap kerusakan yang disebabkan oleh
Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) di Desa Melibur Kecamatan
Pinggir, Kabupaten Bengkalis, Riau, dan mengidentifikasi persepsi masyarakat
sekitar kawasan konflik manusia gajah di Desa Melibur Kecamatan Pinggir,
ii
Kabupaten Bengkalis, Riau. Metode Penelitian adalah metode kualitatif deskriptif
yaitu menjelaskan kondisi temuan lapangan melalui studi pustaka, wawancara
(kuesioner), dan pengamatan lapangan. Responden ditentukan secara purposive
sampling.
Hasil Penelitian adalah Hasil persepsi masyarakat terhadap gangguan
tanaman oleh Gajah Sumatera (Elephas Maximus Sumatrunus) mendapat nilai 25
dalam kategori tinggi, artinya tanaman pekebunan dan pertanian masyarakat
setuju diganggu oleh gajah. Persepsi masyarakat terhadap kerusakan oleh gajah
Gajah Sumatera (Elephas Maximus Sumatrunus) mendapat nilai 23 dalam
kategori sedang, artinya masyarakat mengalami kerusakan tanaman dan sarana
pondok jaga lahan pertanian dan perkebunan, dan tidak mengalami putusnya
akses jalan, kubangan pada lahan pertanian dan perkebunan, juga pemadatan
tanah pada lahan pertanian dan perkebunan. Persepsi masyarakat sekitar kawasan
konflik manusia gajah mendapat nilai 25 kategori tinggi, kawasan sekitar konflik
manusia gajah sangat sering terjadi.
Informasi Repositori
- Jenis
- Thesis
Detail Information
- Tahun
- 2020
- Bahasa
- en
- Last Updated
- 2022-06-09T04:39:20Z
Subjects / Keywords
Akses Dokumen
Hak Cipta & Lisensi
Konten ini bersumber dari Repositori Institusi Kemendikdasmen.
Hak cipta dimiliki oleh institusi pencipta karya. Dilisensikan di bawah Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International (CC BY-NC 4.0).
Metadata di-harvest melalui protokol OAI-PMH sesuai SK Sekjen Kemendikbudristek No. 18/M/2022.
Karya Umum
Filsafat
Agama
Ilmu-ilmu Sosial
Bahasa
Ilmu-ilmu Murni
Ilmu-ilmu Terapan
Kesenian, Hiburan, dan Olahraga
Kesusastraan
Geografi dan Sejarah