Nilai Ekonomi Dan Kontribusi Hasil Hutan Bukan Kayu Terhadap Pendapatan Masyarakat (Studi Kasus Pada Desa Halaban Kecamatan Lareh Sago Halaban, Kabupaten 50 Kota, Sumatera Barat)
Safitri, Annisa Wahyu
Kebutuhan masyarakat semakin hari semakin meningkat. Pemanfaatan Hasil
Hutan Bukan Kayu (HHBK) sudah mulai menjadi salah satu fokus pengembangan
masyarakat. Jika masyarakat setempat memahami nilai ekonomi dan kontribusi
pemanfaatan hasil hutan bukan kayu (HHBK), maka masyarakat Desa Halaban
akan memiliki potensi dan pemanfaatan hasil hutan bukan kayu (HHBK) terbaik.
Mengingat pentingnya sumberdaya hutan bagi pendapatan penduduk, maka perlu
dilakukan kajian terkait nilai ekonomi dan kontribusi HHBK. Diharapkan setelah
mengetahui nilai ekonomi dan kontribusinya, masyarakat dan pihak terkait dapat
saling membantu dalam pengembangan HHBK di wilayahnya.
Tujuan penelitian ini adalah untuk menghitung nilai ekonomi hasil hutan
bukan kayu yang digunakan masyarakat di Desa Halaban, Kecamatan Lareh Sago
Halaban, Kabupaten Lima Puluh Kota. Menghitung bagaimana kontribusi hasil
hutan bukan kayu terhadap pendapatan masyarakat di Desa Halaban, Kecamatan
Lareh Sago Halaban, Kabupaten Lima Puluh Kota. Metode pengambilan data
yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara, kuesioner dan
dokumentasi
Hasil penelitian yang telah dilakukan di Desa Halaban dengan 95 responden
penelitian, jenis-jenis HHBK yang berpotensi secara ekonomi terdiri dari Karet
(Havea brasiliensis), Pinang (Areca catechu), Gambir (Uncaria gambir), Durian
(Durio zibethinus), Kayu Manis (Cinnamomum verum), Manggis (Garcinia
mangostana), Kepulaga (Amomum compactum), Kakao (Theobroma cacao), Petai
(Parkia speciosa), Kopi arabica (Coffea Arabica L), Jengkol (Archidendron
pauciflorum), Alpukat (Parsea americana), Aren (Arenga pinnata), Sereh wangi
(Cymbopogon nardus), dan Jahe (Zingiber officinale Rosc).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai ekonomi HHBK yang terbesar
pada Desa Halaban yaitu karet dengan nilai ekonomi sebesar Rp.1.128.038.400,-
/tahun (24,56%), penghasil nilai ekonomi kedua yaitu kapulaga dengan nilai
ekonomi sebesar Rp.819.936.000,-/tahun. Penghasil nilai ekonomi ketiga yaitu
kulit manis dengan nilai ekonomi sebesar Rp.738.000.000,-/tahun, nilai ekonomi
selanjutnya yaitu gambir dengan nilai ekonomi sebesar Rp.626.760.000,-/tahun
dan yang kelima yaitu pinang dengan nilai ekonomi sebesar Rp.366.120.000,-
/tahun.
Nilai total ekonomi dari hasil hutan bukan kayu (HHBK) yang
dimanfaatkan oleh masyarakat Desa Halaban adalah sebesar Rp. 4.592.577.979,-
/tahun. Total pendapatan keseluruhan yang diperoleh masyarakat Desa Halaban
baik dari pendapatan HHBK maupun pendapatan diluar HHBK yaitu sebesar
Rp.7.305.777.979,-/tahun. Kontribusi HHBK yang dimanfaatkan oleh masyarakat
Desa Halaban adalah 63% masuk dalam kelas persentase kontribusi pendapatan
besar.
Hutan Bukan Kayu (HHBK) sudah mulai menjadi salah satu fokus pengembangan
masyarakat. Jika masyarakat setempat memahami nilai ekonomi dan kontribusi
pemanfaatan hasil hutan bukan kayu (HHBK), maka masyarakat Desa Halaban
akan memiliki potensi dan pemanfaatan hasil hutan bukan kayu (HHBK) terbaik.
Mengingat pentingnya sumberdaya hutan bagi pendapatan penduduk, maka perlu
dilakukan kajian terkait nilai ekonomi dan kontribusi HHBK. Diharapkan setelah
mengetahui nilai ekonomi dan kontribusinya, masyarakat dan pihak terkait dapat
saling membantu dalam pengembangan HHBK di wilayahnya.
Tujuan penelitian ini adalah untuk menghitung nilai ekonomi hasil hutan
bukan kayu yang digunakan masyarakat di Desa Halaban, Kecamatan Lareh Sago
Halaban, Kabupaten Lima Puluh Kota. Menghitung bagaimana kontribusi hasil
hutan bukan kayu terhadap pendapatan masyarakat di Desa Halaban, Kecamatan
Lareh Sago Halaban, Kabupaten Lima Puluh Kota. Metode pengambilan data
yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara, kuesioner dan
dokumentasi
Hasil penelitian yang telah dilakukan di Desa Halaban dengan 95 responden
penelitian, jenis-jenis HHBK yang berpotensi secara ekonomi terdiri dari Karet
(Havea brasiliensis), Pinang (Areca catechu), Gambir (Uncaria gambir), Durian
(Durio zibethinus), Kayu Manis (Cinnamomum verum), Manggis (Garcinia
mangostana), Kepulaga (Amomum compactum), Kakao (Theobroma cacao), Petai
(Parkia speciosa), Kopi arabica (Coffea Arabica L), Jengkol (Archidendron
pauciflorum), Alpukat (Parsea americana), Aren (Arenga pinnata), Sereh wangi
(Cymbopogon nardus), dan Jahe (Zingiber officinale Rosc).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai ekonomi HHBK yang terbesar
pada Desa Halaban yaitu karet dengan nilai ekonomi sebesar Rp.1.128.038.400,-
/tahun (24,56%), penghasil nilai ekonomi kedua yaitu kapulaga dengan nilai
ekonomi sebesar Rp.819.936.000,-/tahun. Penghasil nilai ekonomi ketiga yaitu
kulit manis dengan nilai ekonomi sebesar Rp.738.000.000,-/tahun, nilai ekonomi
selanjutnya yaitu gambir dengan nilai ekonomi sebesar Rp.626.760.000,-/tahun
dan yang kelima yaitu pinang dengan nilai ekonomi sebesar Rp.366.120.000,-
/tahun.
Nilai total ekonomi dari hasil hutan bukan kayu (HHBK) yang
dimanfaatkan oleh masyarakat Desa Halaban adalah sebesar Rp. 4.592.577.979,-
/tahun. Total pendapatan keseluruhan yang diperoleh masyarakat Desa Halaban
baik dari pendapatan HHBK maupun pendapatan diluar HHBK yaitu sebesar
Rp.7.305.777.979,-/tahun. Kontribusi HHBK yang dimanfaatkan oleh masyarakat
Desa Halaban adalah 63% masuk dalam kelas persentase kontribusi pendapatan
besar.
Informasi Repositori
- Jenis
- Thesis
Detail Information
- Tahun
- 2022
- Bahasa
- id
- Last Updated
- 2024-03-30T02:47:40Z
Subjects / Keywords
Akses Dokumen
Hak Cipta & Lisensi
Konten ini bersumber dari Repositori Institusi Kemendikdasmen.
Hak cipta dimiliki oleh institusi pencipta karya. Dilisensikan di bawah Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International (CC BY-NC 4.0).
Metadata di-harvest melalui protokol OAI-PMH sesuai SK Sekjen Kemendikbudristek No. 18/M/2022.
Karya Umum
Filsafat
Agama
Ilmu-ilmu Sosial
Bahasa
Ilmu-ilmu Murni
Ilmu-ilmu Terapan
Kesenian, Hiburan, dan Olahraga
Kesusastraan
Geografi dan Sejarah